ADS BANNER 480x80

Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juli 2013

1 Kisah Suami Istri yang Mengharukan

Berikut Ini Adalah cerita kisah pasangan suami istri, ceritanya sangat bagus. 20 menit sobat membaca ini, akan terjadi perubahan dalam hidup sobat. baca sampai habis ya, jangan diputus putus bacanya agar kisahnya terbayang jelas. 

selamat membaca !!! 

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. 

Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka. Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. 

Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. 

Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku. Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. 

Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami. Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku. 

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi. Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. 

Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya. “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. 

Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??” “Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. 

Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. 

Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. 

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis. Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. 

Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara. Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. 

Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. 

Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku. Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. 

Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. 

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. 

Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. 

Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. 

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. 

Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku. Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. 

Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia. 

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku. 

Istriku Liliana tersayang, 

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. 
Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. 
Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. 

Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. 

Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. 

Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. 

Teruntuk Farah, putri tercintaku. 

Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. 
Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. 
Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy! 

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. 

Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta. Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. 

Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. 

Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?” Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. 

Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.” Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.” 

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus. 

Senin, 08 Juli 2013

0 8 Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Teman teman sekalian, sekedar buat renungan saja, mudah-mudahan bermanfaat. 

“Seumur hidup kita menggendong orang tua di pundak kita, tidak akan bisa membalas jasa-jasa orang tua kita” 

8 Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya 

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. 

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : 
“Makanlah nak, aku tidak lapar” – KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA 

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : 
“Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” – KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA 

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja. ” Ibu tersenyum dan berkata :
”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” - KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA 

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :
”Minumlah nak, aku tidak haus!” – KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT 

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, Ibu berkata : 
“Saya tidak butuh cinta” – KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA 

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : 
“Saya punya duit” – KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM 

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku : 
“Aku tidak terbiasa” – KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH 

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. 
Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : 
 “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” – KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN. 

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. 

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih Ibu ! “ 

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar (maaf yah nyindir yg pacaran), kita pasti lebih peduli dengan pacar. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita…?? 

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. 

Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari. 

Senin, 22 April 2013

0 Cerita Inspiratif Tentang Ibu

Suatu saat ibu saya mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia Membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi Berbelanja bersama dengan orang lain, Dan saya bukanlah orang yang sabar, Tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut. 

Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, Dan ibu saya Mencoba gaun demi gaun Dan mengembalikan semuanya. Seiring Hari yang Berlalu, saya mulai lelah Dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel Gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. 

Pada blusnya terdapat sejenis Tali di bagian tepi lehernya, Dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk Kali ini saya ikut masuk Dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti Pakaian, saya melihat bagaimana IA mencoba pakaian tersebut, Dan dengan Susah mencoba untuk mengikat talinya. Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai Dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi Dan sebab itu dia tidak dapat Melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa Kasihan yang dalam kepadanya. 

Saya berbalik pergi Dan mencoba menyembunyikan Air Mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan Lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun Tersebut. Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. 

Perjalanan belanja Kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir Dan tidak dapat Terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa Hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di Dalam ruang ganti pakaian tersebut Dan terbayang tangan ibu saya yang sedang Berusaha mengikat tali blusnya. Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan Saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari Semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya. 

Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil Tangannya, menciumnya ... Dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya Bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di Dunia ini. 

Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat Melihat dengan Mata baru, betapa bernilai Dan berharganya kasih sayang yang Penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu Hari Kelak tangan saya Dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri. 

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, Tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu... With Love To All Mother. 

Note: 
Berbahagialah yang masih memiliki Ibu. Dan lakukanlah yang terbaik Untuknya.. " 
Lakukanlah yang Terindah Dan Terbaik yang Anda dapat persembahkan Untuknya " 

0 Caraku Menjaga Cintaku

Sengaja aku tak menghubungimu, 
Tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu. 
Mungkin ini tak biasa, 
Tapi bagiku, Inilah cara terbaik mencintaimu. 

Aku mencintaimu dengan cara menjauh darimu, Bukan karena aku mulai tak menyukaimu, Justru karena aku sangat mencintaimu, Dan aku ingin menjagaku juga menjagamu, Menjaga tulusnya hatimu, juga menjaga kesucian hatiku. 

Inilah caraku mencintaimu, 
Dalam diamku, 
Dalam ketulusanku, 
Dalam kesucianku, 
Dalam cara tak biasaku, 

Meski sulit, 
Meski berat, 
Meski sakit untukku, 

Namun ku tahu ini pilihan terbaik agar kita tak terlalu saling mengharap. 
Karena berharap hanya pantas pada Sang Pemilik Hati, 
Karena berharap hanya pantas digantungkan pada Sang Pemilik Cinta, 
Pada-Nya kuharap Dia kan menjagamu untukku, 
Pada-Nya kutitipkan hatimu, 

Biarlah ku hanya bisa menyapamu lewat senandung doa, 

Agar Untukmulah segala kebaikan, Agar bersamamulah segala keindahan. 


0 " BUAT YANG SEDANG GALAU, BACA NIH....!!! "



Jangan tangisi mereka yg meninggalkanmu demi orang lain. Jika mereka cukup bodoh melepasmu, kamu harus cukup pintar melupakannya. 

Setiap org punya masalah. Lebih baik mencari solusi masalahmu daripada membandingkan masalahmu dengan orang lain. Kadang kamu bertemu seseorang yg sangat berarti dlm hidupmu hanya tuk menyadari pada akhirnya kamu harus melepaskannya.  

Kadang kamu bertemu seseorang yg sangat berarti dlm hidupmu hanya tuk menyadari pada akhirnya kamu harus melepaskannya. Pikirkan apapun yang akan kamu ucapkan. 

Karena setiap ucapan yang keluardari mulutmu, tak akan bisa kamu tarik kembali. Cintai apapun yang ada didunia dengan sewajarnya. Karena apapun yangada di dunia tak ada yang abadi. 

Belajar memahami bahwa tak semua keinginan bisa terpenuhi, barang kali obat terbaik tuk mencegah kecewa dan sakit hati. 

Jangan pernah menyepelekan apapun yang telah kamu miliki, karena mungkin yang kamu miliki itu sangat diinginkan oleh orang lain. Selalu lakukan kebaikan dengan cara terbaik. Karena dengan cara itulah kedamaian akan tercipta. Setuju?? 


0 Sebuah Catatan Untuk Renungan

Catatan seorang penulis buku ini bisa menjadi pelajaran yang berharga: 

"Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. 

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. 

Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri. 

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. 

Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini." Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. 

Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya. 

0 RODA KEHIDUPAN TERUS BERPUTAR, ALLAH BERSAMA ORANG2 YG SABAR

Bersabar adalah bukan tentang bangga mengakui bahwa kita bisa bersabar. Namun bersabar adalah tentang melatih jiwa yang angkuh mengakui kelebihan diri untuk bisa bersabar, dan legowo mengakui bahwa kesabaran dalam diri kita adalah hanya karena rahmat Allah. 

Pandai bersabar adalah bukan bakat, tapi perenungan seorang pemilik logika sehat yang sangat mengerti tentang akibat. Karena sudah berapa banyak kasus ceroboh yang mempersulit diri, dan apakah harus kita lakukan lagi dan lagi karena kita kurang bersabar?  

Sabar adalah hak milik pribadi yang beriman, salah satunya adalah tentang keyakinannya akan janji Allah yaitu, Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan. Hal inilah yang kemudian membentuk jiwa ramah dalam diri kita untuk melihat kehidupan ini yang seharusnya akan pasti mudah, karena tidak akan ada niatan dari Allah untuk menyulitkan Kita. 

Dan sebagai hasil akhir, kedamaian pun akan selalu meliputi jiwa. Bersabar adalah bukan tentang mengerti orang lain, namun adalah tentang memuliakan jiwa kita sendiri yang sungguh sedang liar demi mengangkat derajat kita sendiri di hadapan Allah. 

Bersabar adalah bukan hanya tentang menahan amarah, namun di dalamnya terkandung maksud untuk membengkokkan kerasnya gengsi, dan menyadari bahwa diri hanyalah seorang hamba yang harus belajar minta maaf, dan mengajarkan hati dalam luasnya memaafkan. 

0 KETIKA LAKI LAKI MENANGIS

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 ❤❀.♥Bismillahirrahmaanirrahim♥.❀❤ 

Beginilah cara laki-laki menangis, Terlihat diam dan tenang, sesekali air matanya keluar dari matanya. 

Pandangannya kosong namun seperti ingin mengatakan sesuatu. 
Tidak selama wanita saat menangis, hanya beberapa menit, bahkan beberapa detik.  

Diam dalam sendirinya, Seolah-olah tangis itu milik dia seorang. Tidak ada yang lain.. 

Setelah puas di detik-detiknya,dia kembali lagi beraktifitas seperti biasa.. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.. Perempuan berpikir dengan perasaannya, laki-laki berpikir dengan logikanya. 

Inilah mengapa perempuan lebih sensitif dibandingkan dengan laki-laki. Tapi, menangis selalu berasal dari perasaan. Teman.. ketika laki-laki menangis.. bukan sebutan cengeng atau kurang jantanlah yang harus dilontarkan padanya. 

Tapi lihatlah betapa sangat beratnya dia menahan deritanya, sehingga dia perlu mengeluarkan air matanya yang berharga itu.. Dia tidak perlu orang mendekatinya, dia tidak perlu orang untuk menghiburnya. Yang dia perlukan hanya beberapa menit/detiknya untuk ketenangan batin.. 

Menangis merupakan dinamika emosi yang ada di setiap manusia. 

Sumber

Minggu, 21 April 2013

0 Berhasil, Gagal dan Takdir : Surat Sahabat

Surat dari Sahabat 

Seorang sahabat berkata kepada saya, “Jika ingin melakukan sesuatu maka pilihlah untuk maju dan mencoba, karena kamu akan mendapat dua kemungkinan, yaitu BERHASIL atau GAGAL, jika kamu memilih mundur atau tidak mencoba maka kamu akan hanya mendapat satu kemungkinan yaitu GAGAL”.  

Dapat kita simpulkan bahwa, kata maju, mencoba atau melakukan adalah kata yang paling baik jika kita menginginkan sesuatu, dalam hal ini adalah segala perbuatan yang baik, karena didalam kata itu terdapat sebuah kata BERHASIL meski ada opsi lain yaitu GAGAL akan tetapi itu lebih baik jika kita tidak melakukan kata kedua yaitu mundur, atau menyerah yang hanya akan memunculkan satu kemungkinan besar yaitu GAGAL. 

Memang sering kita mendengar sebuah kata ‘keberuntungan’ yang selalu dijadikan alasan bagi orang yang merasa kurang beruntung. Perlu kita tanamkan dalam benak kita bahwa keberuntungan itu bukan suatu kebetulan, melainkan suatu yang bisa kita usahakan. Bukankah sering kita dengar bahwa Tuhan itu tidak akan mengubah keadaan kita, kecuali kita yang merubahnya. Ini berarti, kita punya peranan yang sangat besar dalam kehidupan kita, kita jangan selalu menyalahkan Takdir, apalagi menyalahkan Tuhan. 

Takdir memang tidak bisa dirubah, Karena takdir adalah suatu hasil dari apa yang sebelumnya kita kerjakan atau kita upayakan. Yang kita alami saat ini adalah yang kita lakukan dimasa lalu, yang kita alami dimasa mendatang adalah yang kita lakukan saat ini. Pernah sahabat saya berkata, ‘masa depan itu misteri, tetapi kita bisa mengintip masa depan itu dari apa yang kita lakukan saat ini. Ingat, kehidupan kita bagaikan roda yang berputar, terkdang kita diatas terkadang pula kita dibawah. Yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha, keep moving, keep fighting, and keep praying. Jadi, sahabat-sahabatku, mengapa kita masih ragu untuk mencoba, maju, atau melakukan?. 

-AnwarFauzi- 

Jumat, 15 Maret 2013

0 You can do it !!!


saya tidak yakin atas apa yang saya lakukan hari ini, apakah itu bisa membuat orang lain bahagia ataupun tidak? saya selalu berusaha untuk mengingat Allah dimanapun saya berada. dikondisi apapun saya berada. disaat seperti apapun saya berada. saya tak peduli, dengan pembicaraan orang-orang baik atau buruknya saya. yang penting saya melakukan ini dengan hasil kerja keras saya. 

ketika kita ingin sekali menggapai sebuah impian, pastinya kita selalu mempunyai niat yang pertama. kita lalu terus berdo’a dan tak lupa kita terkadang merelakan waktu hanya demi impian tersebut. tetapi, janganlah kita terlalu berharap untuk bisa menggapainya, karena jika impian itu tidak kita gapai, mungkin saja hati ini retak dan sangat kecewa. 

kita akan terganggu sekali untuk beribadah kepada Allah, berbicara dengan kedua orangtua, teman, sahabat ataupun lebih. kita harus fokus akan apa yang kita lakukan. teruslah berkata dalam hati anda “bahwa saya sudah melakukan yang terbaik. 

saya tak peduli hasilnya bagaimana, yang saya fikirkan hanyalah. semoga ini bisa membahagiakan diri saya dan orang lain!” ya, kita harus berkata seperti itu, tetap optimis dan tak boleh pesimis. masa depan itu nomor satu, masuk surga itu impian semua manusia. 

hari ini adalah hari yang harus kau syukuri, karena kau diberi sebuah kesehatan oleh Allah, apakah esok hari kita bisa seperti hari ini? 
apakah kita bisa menyapa teman dan sahabat kita? 
apakah bisa mengungkapkan perasaan cinta terhadap seseorang? 
apakah yang paling utama, bisa mencium tangan kedua orangtuamu? 
ataukah kau masih bisa membuka matamu? 

yaa, kita memang tidak tau ada apa dengan hari esok:/ yang jelas kita harus selalu bersyukur, tak boleh menyerah, dan tetap tawakal dan berdo’a kepada Allah. 

teman ini pesan saya untuk kalian yang membaca artikel saya ini, saya mendapatkan inspirasi ini dari seorang yang sudah tidak ada didunia ini..kakek saya. terimakasih :) 

 -mutia, 13thn 

Selasa, 19 Februari 2013

0 Ibu Pahlawanku

Kali ini ane coba share tentang artikel yang berkaitan dengan seorang IBU, semoga bermanfaat bagi kita semua,,, 

Sahabat, siapa diantara kita yang tidak pernah memiliki ibu. Setiap kita pasti memilikinya, meski mungkin ada yang ibundanya telah meninggal. Berikut ini adalah cerita yang dituturkan oleh saudara Ahmad.  

Di siang hari yang sangat indah dan cerah sekali secerah perasaan hatiku yang berbunga-bunga, aku berencana untuk berangkat ke bawah untuk internetan di depan ruang SGI. Singkat cerita aku pun duduk di sana dan membuka laptop yang berwarna putih itu, kemudian aku pun mulai mengetik di laptopku tersebut. Berapa menit aku duduk disana, aku tidak menyadari bahwa di sampingku itu ada seorang anak SMAT Ekselensia yang sedang dijenguk oleh Ibunya. Ketika 10 menit berlalu asalnya aku tidak memperhatikannya, tapi tak tau kenapa hatiku menyuruh untuk memperhatikan si anak dan ibunya tersebut, dan aku pun memperhatikannya tanpa diketahui oleh mereka. 

Menit silih berganti dengan menit aku melihat Ibu itu terus berbicara sambil mengusap rambut anak karena mungkin sudah lama tidak ketemu sehingga sang ibu tidak henti-hentinya mengelus rambut anak kesayangannya itu dan rasa kangen yang menghantuinya untuk bisa cepat-cepat ketemu dengan anak kebanggaanya kemudian terwujud keinginannya itu. Lama kelamaan aku perhatikan di dalam percakapan tersebut sang anak menangis aku tak tau alasannya kenapa bisa menangis, tapi aku beranggapan karena sang anak juga kangen banget sama orang tuanya terutama Ibunya. 

Di dalam kondisi menangis sang Ibu masih terus mengelus rambutnya dan sambil menenangkan hati anak kebanggaanya itu, walaupun agak lama anak itu menangis akhirnya dia pun berhenti dari tangisannya. Spontan aku teringat wajah-wajah orang yang selalu menyayangi dan mencintaiku setulus hati yaitu orang tuaku terutama Ibu yang telah melahirkan, menyusui dan membesarkan diriku hingga sampai saat ini. 

Aku berfikir banyak sekali perkataan dan perbuatan yang selalu menyakitimu, maafkanlah dosa anakmu yang tak tau diri ini yang tiap detik, menit bahkan jam selalu melukai perasaanmu, Ibu maafkanlah dosa anakmu yang hina ini dan jasamu gak bisa dibalaskan harta bahkan dunia seisinya sebagai gantinya. 

Aku pun ikut sedih dan rasanya hatiku ingin ikut menangis, ingin rasanya aku meneteskan air mata dan menangis tersedu-sedu dipangkuanmu tapi aku tahan dan semua itu tidak mungkin. Aku sayang dan rindu padamu Ibu, I Love You Forever. Aku persembahkan lagu dari Hawari untukmu Ibuku sayang…. 

Minggu, 06 Januari 2013

0 Kisah The Brooklyn Bridge

Siapa yang tidak mengenal The Brooklyn Bridge, sebuah jembatan sepanjang 1.825 m dengan bentang terpanjang mencapai hampir 500 m yang terbentang menghubungkan pulau Manhattan dengan Brooklyn di New York Amerika serikat. Dibalik pembangunan jembatan tersebut terdapat keajaiban dan sebuah cerita yang sangat menarik. Pada tahun 1869 seorang insinyur yang sangat pandai bernama John Roebling terinspirasi untuk membuat sebuah jembatan yang spektakuler yang menyeberangi East River (Sungai East).  

Mendengar rencana Roebling, para ahli konstruksi seluruh negara menertawakannya dan mengatakan padanya untuk melupakan ide tersebut, yang kata mereka tak mungkin dilakukan. Roebling meyakinkan anaknya, Washington, seorang pemuda yang sedang belajar ilmu teknik sipil, dengan mengatakan bahwa jembatan itu sangat mungkin untuk dibangun. Keduanya pun terlibat dalam pengembangan konsep bagaimana cara membangun serta mengurai setiap permasalahan dan hambatan yang mungkin timbul. Dengan semangat yang tinggi, keduanya beserta timnya mulai membangun jembatan impian tersebut. Saat pembangunan baru berjalan beberapa bulan terjadilah suatu musibah yang mengakibatkan meninggalnya John Roebling. 

Sementara Washington mengalami cedera yang cukup parah yang mengakibatkan cacat permanen sehingga ia tidak bisa bicara dan berjalan.Semua orang beranggapan bahwa proyek tersebut akan segera berhenti dan terbengkalai, karena hanya mereka berdua yang tahu bagaimana jembatan tersebut akan dibangun. Meski dalam keadaan tidak bisa bergerak atau bicara dan hanya berbaring di tempat tidur, otak Washington tetap bekerja. 

Keinginannya menyelesaikan mimpi dirinyanya dan ayahnya tetap menyala. Sebuah ide yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya adalah mengembangkan sebuah cara berkomunikasi melalui jarinya, karena yang dapat dilakukannya hanyalah menggerakkan satu jarinya. Washington menyentuh lengan istrinya, mengetukkan kode-kode tertentu yang memerintahkan para tenaga pekerja dan insinyur yang sedang membangun untuk mengikuti konsep yang ada dalam kepalanya. 

Selama 13 tahun ketukan-ketukan instruksi tersebut dilakukannya sampai akhirnya jembatan tersebut selesai dikerjakan dan digunakan pada tahun 1883. 

Sebuah kisah nyata yang layak menjadi pelajaran bahwa halangan sebesar apapun tidak boleh menjadi hambatan yang menghentikan sebuah mimpi. 

Jumat, 30 November 2012

0 Kisah Cinta Seorang Anak

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja. 

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal dunia. 

Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. 

Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?” “Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. 

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric… Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau. “Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!” 

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…” 

Saya pun membaca tulisan di kertas itu… “Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…” Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!” Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. “Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. 

Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.” 

Semoga bermanfaat

Selasa, 06 November 2012

0 Kisah Cinta Seorang Dokter


Menuliskan kisah ini mengingatkan aku pada setahun yang lalu. Saat seorang dokter menuliskan kisah cintanya pada catatanya facebook. Jujur saat membaca kisahnya membuat air mataku tidak terbendung lagi. Semangatku benar-benar pudar. Rasa bangga dan hormatku terhadap dokter tersebut semakin besar. 

Dalam hatiku, kalau saja sebagian orang menganggap ketika terjadi perpisahan dengan orang yang dikasihi dan cintainya. Lantas mereka mengatakan “ wajarlah cinta memang tak harus memiliki”. Maka, bisa dipastikan semua yang mereka rasakan dari cinta yang dimiliki selama ini hanyalah sebuah fatamorgana belaka. Namun, jika mereka mengalami sebuah perpisahan dengan orang yang paling mereka cintai. Lantas mereka mengatakan, cinta yang kumiliki benar ikhlas untukmu. Ada maupun tidak ada dirinya cinta ini akan tetap kujaga. Maka, inilah cinta yang seutuhnya. Cinta yang tidak termakan waktu, cinta yang tidak dibatasi kematian, cinta yang tak termakan usia, cinta yang tahu dimana akhirnya berujung. 

Sahabatku… Inilah kisah sosok pencinta sejati yang dimiliki oleh dokter muda. Mudah-mudahan dari kisahnya, kita dapat mengambil pelajaran berharga bahwasanya cinta memang harus memiliki. Selamat menikmati!!! 

Kepergianmu yang begitu cepat meninggalkan dunia ini…meninggalkan diriku dan kedua anak kita (Ubaidillah dan Syifa)..apalagi engkau pergi dalam keadaan mengandung anak kita…sang mujahid atau mujahidah kecil calon penghafal Qur’an…sungguh bagaikan mimpi. Masih hangat dalam ingatanku tawa candamu,suaramu,kenangan indah bersamamu Dinda…bahkan hari-hari terakhir bersamamu…tidak ada tanda-tanda bahwa Dinda akan meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Seiap kali aku mengingat dirimu…mata ini tidak tahan untuk meneteskan airmata..bahkan saat aku menulis surat ini.Saat kutatap wajah anak-anak kita…aku sangat sedih bahwa mereka harus berpisah dengan umminya begitu cepat…disaat mereka membutuhkan belaian kasih sayang darimu. 

Masih hangat dalam ingatanku detik-detik terakhir saat Dinda pergi untuk menghadap Sang Kholiq… Allah membangunkan diriku saat engkau menghadapi sakaratul maut..ketika itu tepatnya hari jumat 11 maret pukul 03.00 dini hari…aku terbangun saat mendengar suaramu yang tidak seperti biasanya..berbagai upaya aku lakukan untuk membangunkan dirimu sampai anak-anak terbangun dan bertanya sambil menangis…”kenapa ummi tidak bangun-bangun Abi..?”..akupun hanya bisa menghibur mereka “Ubaid dan Syifa doakan Ummi ya Sayang”. 

Melihat keadaan istriku yang tidak sadar,kuperhatikan nafasnya yang sudah berhenti..namun aku masih belum yakin bahwa istriku sudah pergi..maka saat itu juga aku telfon pamannya yang kebetulan tinggal tidak jauh dari tempat kami…maka kami pun membawanya ke rumah sakit bersama dengan anak-anakku. Setibanya di rumah sakit..maka dokterpun memeriksanya..dan hasilnya bahwa istri dan bayi kami sudah meninggal dunia… meninggalkan kami untuk selama-lamanya.Dalam hati aku bertanya…secepat inikah Dinda meninggalkan kami..Maka aku panggil kedua anakku Ubaid dan Syifa untuk mencium Ummi dan Adiknya yang masih dalam kandungan. 

Aku katakan…”Cium ummi dan adik nak..katakan selamat jalan Ummi..ubaid dan syifa sayang sama Ummi..kemudian mereka mencium perut umminya dan “selamat jalan adik..jaga ummi ya..”.Kami pun semua menangis melepas kepergiannya menghadap Robbul Alamin Selamat jalan..wahai Mujahidahku tersayang… Dinda memang terlahir untuk menjadi mujahidah…Allah telah membentuk dirimu untuk hidup tegar.
Sebagai anak semata wayang..Dinda pun harus kehilangan kedua orang tua saat usia remaja.Ketegaranmu terhadap agama Allah tidak menyurutkan niatmu untuk menjadi seorang Dokter.Bahkan setelah menyandang gelar dokter..perjuanganmu semakin besar untuk Islam. Selamat Jalan ..wahai Mujahidahku tersayang… Kepergianmu yang begitu cepat…seakan-akan menyadarkan semua orang bahwa memang ajal adalah sebuah misteri yang hanya Allah yang mengetahui.
Semuanya adalah titipan dari-Nya yang setiap saat Dia berhak untuk mengambilnya dangan caraNya yang Maha Bijaksana.Walaupun terasa begitu pahit…tapi aku yakin..bahwa inilah yang Terbaik yang Allah berikan kepada kami. Selamat Jalan ..wahai Mujahidahku tersayang… Kami relakan kepergianmu untuk bertemu dengan Allah…Dia begitu sayang kepada Ummi dan adik.Dan inilah saatnya Allah mengajarkan kepada kami tentang makna kesabaran dan keridhoan.Abi faham..untuk menjadi single parent tidaklah mudah…tapi inilah episode kehidupan yang harus Abi lewati..Allah telah mengambil Ummi dan Adik..tetapi masih menyisakan Ubaid dan Syifa yang juga merupakan amanah dari-Nya.
Semoga Abi diberikan kekuatan dan kesabaran untuk mendidik mereka menjadi mujahid dan mujahidah seperti Abi dan Umminya atau bahkan lebih baik…Aminnn Ya Hayyu ya Qoyyuum… Selamat Jalan..wahai Mujahidahku tersayang… Semoga kepergianmu dan anak kita tercinta..merupakan tanda-tanda kebaikan husnul khotimah..Dinda pergi tanpa menyusahkan kami dan bertepatan dengan hari Jum’at.Dinda lebih tahu dari kami semua…karena Dinda sendiri yang merasakannya..bahkan mungkin saat ini Dinda sedang bermain-main dengan si kecil disana.

Semoga Allah melapangkan kubur Dinda dan menjadikaannya sebagai taman syurga.Selesai sudah tugas Dinda untuk menemani kami di dunia..kami akan sangat merindukanmu… Selamat Jalan …..wahai Mujahidahku tersayang… Yaa Allah….dariMu semua kebahagian dan duka ini…semua peristiwa adalah cara Engkau berbicara dan menyapa kami.

Kami yakin bahwa semua yang engkau takdirkan adalah yang TERBAIK .Engkau Maha Bijaksana untuk menguji hamba-hamba-Mu.. 

Sahabatku. Tulisan tangan dokter ini, membuat kami semakin sadar bahwa mencintai itu persoalan bagaimana kita mampu menjadi orang terbaik, di saat orang lain meragukan kemampuan kita, di saat kita ditinggal orang yang kita cintai, mencitai itu bagaimana seorang mampu memaknai sisa-sisa kenangan yang terindah yang pernah tercipta bersama orang yang kita cintai. Bukan malah menyalahkan, takdir yang tidak bersahabat dengan kita, bukan malah menyalahkan ketidakadilan tuhan pada kita. Atau dengan kepasrahan nyata, anda mengatakan cinta tak harus memiliki. 
Percayalah! Hakekat cinta itu memiliki, kalau anda tidak siap memiliki cinta berarti diri anda sendiri tidak mampu memberi kesempatan orang lain untuk mencintai anda. Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada dokter ini. Makanya , kisah saya abdikan dalam buku saya. 
Info terakhir yang kami dapat mengenai dokter ini, sampai sekarang beliau belum menikah. Disamping kesibukannya di rumah sakit. Beliau juga tetap setia menjaga dua buah hati hasil dari benih cintanya. 

0 Aku dan Tukang Ojek

Aku seorang tukang ojeg anak sekolah yang berasal dari Tanjung Pinang, aku ngojeg dari kelas 3 SMA sampai aku kuliah. Banyak orang menjelekan pekerjaanku itu, mulai dari tetangga dan bahkan temanku sendiri tapi aku tidak menghiraukan ejekan tersebut yang penting bagiku itu kerjaan yang halal apalagi di saat kondisi keluarga yang serba kekurangan dan dilihat kondisi sekarang saat ini susah untuk mencari kerjaan, tukang ojeg itu lebih baik daripada pekerja kantor atau pejabat yang melakukan korupsi. 

Cita-citaku adalah seorang guru dan sekarang aku kuliah semester enam di Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjung Fakultas Tarbiyah jurusan B. Indonesia, sehingga untuk memenuhi cita-citaku aku membantu Ibu jadi tukang ojeg, tiap hari aku ngojeg dari jam 06.30 sampai dengan jam 01.30 setelah itu aku istirahat sebentar kemudian jam 02.00 aku berangkat kuliah tiap hari kerjaanku seperti itu kecuali hari minggu karena aku ngojeg anak SD dan aku mempunyai pelanggan sebanyak 37 orang. Pertama kali ngojeg sempat mempunyai perasaan malu dan ingin berhenti tetapi aku berfikir kembali buat apa malu…? profesi ojeg itu mulia yang terpenting rejeki yang dihasilkan halal dan kalau aku tidak bantu Ibu bagaimana aku bisa menggapai cita-cita mulia itu, dari sejak itu apapun yang dikatakan orang aku abaikan bahkan tidak dianggap sama sekali. Suka duka aku hadapi ketika lagi ngojeg mulai dari cuaca baik itu panas atau hujan aku harus terus jalan karena itu kewajibanku bahkan kejadian yang paling parah ketika ibu dari anak pelangganku melapor bahwa anaknya tidak ada di sekolah dan ternyata anak itu diculik tapi alhamdulillah anak tersebut dikembalikan ke sekolah karena diperjalanan anak itu terus merengek-rengek sehingga penculik gak betah dan mengembalikan anak tersebut ke sekolah. 

Walaupun tiap hari kerjaanku lumayan melelahkan, setelah ngojeg kemudian aku berangkat kuliah tapi aku menikmati hal tersebut mungkin itulah yang terbaik bagiku untuk saat ini makanya aku menjalani kerjaan itu dengan senang hati sehingga semua itu mudah bagiku. Aku yakin setelah aku lulus kuliah pasti Allah SWT mempunyai rencana yang terbaik bagiku dan yang paling terpenting ada satu laki-laki yang baik yang meminangku bahkan keluarganya bangga terhadapku. 

Tak lupa aku selalu menyertakan Tuhan dalam setiap rencana dan cita-cita 

Senin, 15 Oktober 2012

0 Penantian Panjang Seorang Ibu

Kisah ini dimulai dari seorang pengemis wanita dengan seorang bayi perempuannya yang berusia 1 tahun tidak seorang pun tahu dengan nama aslinya tapi beberapa orang tahu sedikit dengan masa lalunya yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halaman namun suaminya pergi entah kemana dan tidak pernah kembali lagi. Pada suatu hari ia tergerak dengan semangatnya untuk mendapat kehidupan yang lebih baik lagi ibu itupun bangkit dan memutuskan untuk bekerja untuk itu ia terpaksa meninggalkan anaknya di puing-puing sebuah toko dimana ia biasa di tempat itu tidur, makan dan hidup. Ia pun berpesan kepada anaknya agar ia tidak berkomunikasi dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat, "Anakku dalam beberapa hari ini ibu akan mendapatkan cukup uang banyak untuk menyewa kamar yang sederhana sehingga kita tidak akan masuk angin lagi tidur disini anakku", hibur wanita itu. Dengan langkah yakin wanita itupun berangkat dan meninggalkan anaknya sendirian, namun selang beberapa lama ia pergi ada sepasang suami istri pengemis yang menculik gadis itu dengan paksa dan membawanya sejauh 300 km ke pusat kota dan menjualnya pada sepasang suami istri dokter yang kaya yang belum mempunyai anak walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu SERAFONA.  

Ditengah - tengah kemewahan istana disitulah gadis kecil itu tumbuh dewasa, dan pada umurnya yang ke-24 tahun Serafona dikenal sebagai anak gadis gubernur yang amat jelita, dan sedang menyelesaikan gelar dokternya, ia adalah figur gadis yang jadi impian setiap pemuda dan akhirnya cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang bernama Geraldo. 

Setahun setelah perkawinan mereka, ayah gadis itu pun wafat dan menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27 sesuatu hal terjadi yang merubah kehidupan wanita itu, pagi itu serafona membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah terpakai lagi dan dilaci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto dimana seorang anak kecil yang digendong sepasang suami istri, selimut yang dipakai untuk menggendong anak itu pun lusuh dan anak itu sendiri tampak tidak terurus dan sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang,kemudian ia berlari membuka lemarinya sendiri dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni yang didalamnya terdapat seluruh barang - barang pribadinya dari kalung - kalung berlian hingga surat - surat pribadi tapi diantara benda - benda mewah itu terdapat sebuah bungkusan kapas kecil yang berisi anting - anting melingkar yang amat sederhana yang terbuat bukan dari emas murni. 

Apa yang ditemukan pagi itu seolah menjawab semua pertanyaan - pertanyaan yang selama ini mengukungnya seperti kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan bentuk wajah kedua orangtuanya atau kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya, itu adalah awal dari hidup baru serafona untuk mencari masa lalunya. Foto hitam putih itupun diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar keseluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri sebagai anak satu satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu serafona pun mendapat dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Meskipun belum ada perkembangan ia tetap yakin bahwa ibunya masih ada dan sedang menantinya sekarang. Pagi, siang dan sore hari ia berdoa agar bisa bertemu dengan ibundanya, hingga disuatu senja mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya, tanpa membuang waktu lagi serafona dan suaminya terbang ke sebuah rumah kumuh, ketika bertemu mereka tahu bahwa wanita separuh buta itu yang kini terbaring sekarat adalah wanita yang ada didalam foto, dengan suara terputus - putus wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan sekitar 25 tahun lalu, tidak banyak yang dingatnya tapi ia masih ingat kota bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. 2 lewat hari tanpa kabar dan pada hari ke-3 mereka menerima telepon dari seorang staff mereka yang mengatakan  bahwa sudah menemukan ibu serafona tapi mungkin waktunya sudah tidak banyak lagi. Mereka langsung naik mobil dan memasuki jalanan sepi dipinggiran kota yang kumuh dan angin pun berhembus dengan kencang, rumah - rumah disepanjang jalan itu begitu tua dan kusam, 1-2 anak kecil berlarian ditepi jalan tanpa memakai baju, ketika mobil berbelok memasuki kejalanan yang lebih kecil serafona pun bisa merasakan kemiskinan yang amat sangat dan ia pun berdoa Tuhan beri saya waktu 1 bulan saja, mobilpun berbelok kejalan yang lebih kecil dan angin yang penuh derita bertiup berebut memasuki celah jendela mobil mereka ketika mereka masuk belokan terakhir tubuh serafona dan suaminya menggigil begitu hebat, jalan itu bernama Los Velidas. 

Ditengah - tengah jalan itu terbaringlah seorang wanita tua dengan pakaian kumuh dan tubuh yang tidak bergerak, melihat hal itu pandangan serafona menjadi gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun dari mobil sedangkan suami serafona dengan sigap sudah loncat keluar dari mobil dan memburu  ibu mertuannya. "Serafona Cepat kemari ibu mu masih hidup tapi kau harus menguatkan hatimu". Serafona memandang tembok dihadapannya dan ingat waktu ia kecil menyandarkan kepalanya di tembok itu, ia memandang lantai dikakinya dan ingat ia belajar berjalan, air matanya mengalir keluar ketika melihat suaminya menyuntikan sesuatu ke wanita itu dan memberi isyarat untuk mendekat ia pun berlutut meraih kepala wanita itu ke dada nya dan berkata "Ya Tuhan beri kami sehari saja biarkanlah saya membiarkan ibu mendekap saya dan memberitahukan nya bahawa selama 25 tahun ini hidup saya begitu bahagia". 

Wanita tua itupun perlahan membuka matanya dan memandang sekelilingnya, kearah kerumunan orang - orang berbaju mewah, kearah mobil - mobil yang mengkilat, dan kearah wajah yang penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. Mendengar suara itu si wanita tua itupun tahu bahwa apa yang ditunggu - tunggunya setiap malam antara sadar dan tidak kini menjadi kenyataan, ia pun tersenyum dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang hampir lepas, perlahan ia membuka genggaman tangannya tampaklah sebentuk anting - anting yang sudah menghitam, serafona mengangguk dan tanpa perduli di sekelilingnya ia  berbaring diatas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada ibunya. "Ibu saya sekarang tinggal diistana dan makan enak setiap hari, ibu jangan pergi dulu ibu!! apapun yang ibu mau kita bisa lakukan bersama - sama, ibu ingin makan yang enak atau tidur ditempat yang empuk apapun bisa kita bicarakan ibu apapun bisa kita lakukan,ibuuu...jangan pergi dulu ibu!!". Ketika telinganya menangkap detak jantung yang semakin melemah serafona kembali berdoa kepada Tuhan "Ya Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemberi,Tuhan satu jam saja beri saya waktu satu jam saja". 

Tapi dada yang didengarnya kini semakin sunyi sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu hanya senyuman wanita itu yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia - sia. 

Sobat semuanya dari cerita diatas menggambarkan bahwa bagaimana perjuangan dari seorang ibu agar bisa bertemu kembali dengan anaknya yang telah diculik walaupun hanya sesaat tapi perjuangan dan penantiannya tidaklah sia - sia. Sobat selagi kita memiliki ibu, cintai dan sayangilah ibu kita selagi kita masih ada waktu sebelum semuanya terlambat...jangan sakiti perasaan ibu kita selagi kita masih bisa menuruti keinginan ibu kita......cerita diatas menggambarkan bahwa kasih sayang ibu sepanjang masa dan sepanjang kehidupannya. 

Semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua untuk bisa memberikan yang terbaik buat kedua orang tua kita.....

My Social Media

ADS BANNERS 480x80

Diberdayakan oleh Blogger.